Duka di Sungai Brantas, Pria Asal Tulungagung yang Hilang Saat Pladu Ditemukan Tewas di Kawasan Semampir Kediri

KEDIRI – INDOSUARANEWS, Upaya pencarian terhadap Mustofa (45), warga Desa Bendosari, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung, yang sebelumnya dilaporkan hanyut di Sungai Brantas, akhirnya membuahkan hasil. Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia di wilayah aliran Sungai Brantas Kota Kediri pada Rabu pagi, 20 Mei 2026.

Jenazah korban ditemukan mengapung di tepian timur Sungai Brantas, tepatnya di sebelah utara Jembatan Semampir, Kelurahan Semampir, Kecamatan Kota, Kota Kediri. Penemuan jasad tersebut pertama kali diketahui oleh warga sekitar yang sedang beraktivitas di dekat bantaran sungai.

Warga yang melihat sosok tubuh mengapung di aliran sungai kemudian segera melaporkan kejadian itu kepada petugas. Tak lama setelah laporan diterima, tim gabungan dari BPBD Kota Kediri bersama unsur relawan dan Basarnas langsung menuju lokasi untuk melakukan pengecekan dan proses evakuasi.

Kepala Pelaksana BPBD Kota Kediri, Joko Arianto, mengatakan laporan dari masyarakat diterima sekitar pukul 08.39 WIB melalui layanan call center darurat.

“Begitu menerima laporan dari warga, kami langsung bergerak menuju lokasi dan berkoordinasi dengan Basarnas Pos SAR Trenggalek guna memastikan identitas korban sekaligus melakukan proses evakuasi,” ujarnya.

Setelah dilakukan pemeriksaan awal dan pencocokan ciri-ciri korban, petugas memastikan bahwa jenazah tersebut merupakan Mustofa, warga Tulungagung yang sehari sebelumnya dilaporkan terseret derasnya arus Sungai Brantas di wilayah Kecamatan Ngantru.

Proses evakuasi berlangsung cukup hati-hati mengingat kondisi arus sungai yang masih cukup deras. Tim gabungan akhirnya berhasil mengevakuasi jasad korban dari tepian sungai sebelum kemudian dibawa ke RS Bhayangkara Kediri untuk penanganan lebih lanjut dan proses identifikasi resmi.

Menurut keterangan petugas, saat ditemukan korban masih mengenakan pakaian lengkap sebagaimana ciri-ciri yang sebelumnya disampaikan pihak keluarga.

“Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan pakaian yang dikenakan masih lengkap melekat di tubuh korban,” tambah Joko.

Diketahui sebelumnya, korban dilaporkan hanyut pada Selasa, 19 Mei 2026, di aliran Sungai Brantas wilayah Desa Bendosari, Kecamatan Ngantru, Kabupaten Tulungagung. Saat itu korban diketahui pergi seorang diri menuju sungai sambil membawa karung untuk mencari ikan memanfaatkan momen flushing atau yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan istilah pladu.

Aktivitas pladu sendiri kerap dimanfaatkan warga untuk mencari ikan ketika debit air sungai mengalami perubahan akibat pembukaan aliran air. Namun kondisi arus yang deras dan tidak menentu sering kali membahayakan keselamatan warga yang berada di sekitar sungai.

Diduga korban kehilangan keseimbangan saat berada di tepi sungai hingga akhirnya terseret arus deras Sungai Brantas. Warga yang mengetahui kejadian tersebut sempat berusaha melakukan pencarian, namun korban tidak berhasil ditemukan sehingga laporan diteruskan kepada pihak berwenang.

Pencarian kemudian dilakukan oleh tim gabungan yang terdiri dari BPBD, Basarnas, relawan, TNI, Polri, serta warga sekitar dengan menyisir aliran Sungai Brantas sejak lokasi awal korban dilaporkan hanyut.

Berdasarkan perkiraan petugas, jarak antara titik awal korban terseret arus di Tulungagung hingga lokasi penemuan di Kota Kediri mencapai sekitar 30 kilometer mengikuti aliran sungai.

Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bagi masyarakat agar lebih meningkatkan kewaspadaan saat beraktivitas di sekitar Sungai Brantas, terutama ketika debit air sedang meningkat dan arus sungai dalam kondisi deras. Masyarakat diimbau untuk tidak mengambil risiko berlebihan demi menghindari terjadinya musibah serupa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *