Kemampuan Fiskal Trenggalek Masuk Tiga Terendah di Jatim, Mas Ipin: Semangat Membangun Tak Boleh Surut

TRENGGALEK – INDOSUARANEWS , Bupati Trenggalek, Mochamad Nur Arifin, mengungkapkan bahwa kemampuan fiskal Kabupaten Trenggalek selama beberapa tahun terakhir masih berada di jajaran tiga terendah di Jawa Timur. Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuat daerah yang dipimpinnya tertinggal dalam berbagai indikator pembangunan.

Pernyataan itu disampaikan saat memberikan pembekalan kepada Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memasuki masa purna tugas di Pendopo Manggala Praja Nugraha, Kamis (25/6).

Menurut Bupati yang akrab disapa Mas Ipin tersebut, keterbatasan anggaran daerah tidak berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan masyarakat maupun kualitas pembangunan manusia di Trenggalek.

“Selama lima tahun terakhir, Trenggalek berada di kelompok tiga daerah dengan kemampuan fiskal terendah di Jawa Timur. Namun kondisi itu tidak membuat Trenggalek masuk dalam tiga daerah dengan tingkat kemiskinan tertinggi maupun IPM terendah,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kemampuan fiskal merupakan ukuran yang menggambarkan kapasitas keuangan daerah dalam memenuhi kebutuhan pembangunan setelah dikurangi berbagai belanja rutin. Dari sisi tersebut, Trenggalek masih menghadapi keterbatasan dibandingkan kabupaten dan kota lain di Jawa Timur.

Meski demikian, berbagai capaian pembangunan tetap mampu diraih. Tingkat kemiskinan, Indeks Pembangunan Manusia (IPM), hingga prevalensi stunting masih berada pada posisi yang lebih baik dibanding sejumlah daerah lain yang memiliki kemampuan anggaran lebih besar.

Bagi Mas Ipin, kondisi ini menjadi bukti bahwa pemerintah daerah bersama masyarakat terus bekerja keras dan tidak menyerah pada keterbatasan yang ada.

“Kalau melihat kondisi fiskal, seharusnya berbagai indikator sosial juga berada di posisi yang rendah. Tetapi faktanya tidak demikian. Artinya ada kerja keras dan semangat luar biasa dari seluruh elemen masyarakat,” katanya.

Dalam kesempatan itu, Mas Ipin juga menggambarkan perjuangan pemerintah daerah dalam membangun Trenggalek dengan keterbatasan sumber daya yang dimiliki. Ia mengibaratkan kondisi tersebut seperti panitia pembangunan masjid yang harus berupaya mencari dukungan dan sumber pendanaan agar pembangunan tetap berjalan.

“Kalau memiliki anggaran besar tentu lebih mudah. Namun ketika anggaran terbatas, dibutuhkan kerja ekstra, kreativitas, dan semangat gotong royong untuk mewujudkan berbagai program pembangunan,” jelasnya.

Komitmen efisiensi anggaran juga ditunjukkan melalui berbagai kebijakan penghematan. Bupati mengaku tidak mengajukan rehabilitasi Pendopo Trenggalek maupun pengadaan kendaraan dinas baru, karena anggaran yang tersedia lebih diprioritaskan untuk kebutuhan masyarakat.

Menurutnya, setiap rupiah yang dimiliki daerah harus dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan warga.

“Orientasi kami bukan pada fasilitas pribadi, melainkan bagaimana Trenggalek bisa terus berkembang menjadi daerah yang lebih baik. Mencari anggaran tidak mudah, melaksanakan program juga tidak mudah, begitu pula menjaga tata kelola pemerintahan yang baik,” pungkasnya.

( PROKOPIM – TGX )

Editor : Bayu NR

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *