TULUNGAGUNG –INDOSUARANEWS.COM Tembakau di Indonesia memberikan manfaat ekonomi yang besar bagi negara dan petani. Namun, sektor ini juga menghadapi sejumlah tantangan yang tidak dapat diabaikan.
Adapun beberapa tantangan ekonomi yang dihadapi petani tembakau antara lain lemahnya posisi tawar petani. Petani sering kali harus menerima tawaran harga karena ketergantungan pada tengkulak. Kedua, permainan mutu dan grading atau penentuan kualitas daun tembakau yang cenderung subjektif di tingkat pasar, sehingga dapat menurunkan margin keuntungan petani. Selain itu, fluktuasi harga jual yang tinggi sering dipengaruhi oleh kuota gudang, kondisi cuaca saat panen, serta keterbatasan modal kerja selama musim tanam.
Beberapa permasalahan tersebut disampaikan Rena Devitasari, S.P., Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kementerian Pertanian, saat pertemuan Bimbingan Teknis (Bimtek) petani tembakau di Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung beberapa waktu lalu.
Bimtek tersebut diselenggarakan Dinas Pertanian sebagai perpanjangan tangan Pemerintah Kabupaten Tulungagung, yang telah menyalurkan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) tahun 2026 melalui Dinas Pertanian.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tulungagung, Drs. Suyanto, M.M., kepada awak media menyampaikan bahwa bimbingan teknis ini bertujuan mendampingi petani agar tembakau varietas lokal Tulungagung memiliki daya saing dalam berbagai aspek.
“Ada tiga pilar utama dalam meningkatkan ekonomi petani tembakau, yakni konsolidasi lahan secara kolektif untuk menurunkan biaya input dan meningkatkan efisiensi produksi. Kedua, pemasaran bersama untuk memutus rantai pasok yang panjang dan menghindari ketergantungan pada tengkulak. Ketiga, pengembangan pascapanen dan pengemasan produk,” lanjut Kepala Dinas Pertanian melalui Kepala Bidang Penyuluhan Pertanian, Triwidyo Agus Basuki, S.P., M.M.
Dengan diselenggarakannya bimbingan teknis bagi petani tembakau di Kabupaten Tulungagung ini, diharapkan petani memiliki daya saing yang lebih tinggi, baik dari segi produk maupun harga. Pasalnya, kualitas tembakau varietas lokal Tulungagung, yakni Gagang Rejeb, telah diakui di berbagai daerah. Bahkan, petani dari daerah lain mulai berbondong-bondong menanam varietas tersebut.
Dengan demikian, upaya pendampingan pemerintah melalui anggaran DBHCHT diharapkan benar-benar memberikan dampak positif bagi perkembangan sektor pertanian tembakau di Kabupaten Tulungagung. ( Eko )
Editor : Bayu NR












